Skip to main content

Aku Rindu Kamu : Lawu


Pendakian ini saya lakukan sekitar tiga bulan yang lalu sekitar bulan Mei 2013. Mungkin pada saat itu saya kapok bilang gak mau nanjak Lawu lagi, tapi honestly saya merindukan track Cemoro Kandang setelah dihajar track Ciremai via Linggarjati yang buat saya cedera. Ternyata Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang jauh lebih bersahabat.

Pendakian Lawu saya yang ke-2 ini melibatkan 7 personel pada awalnya yakni saya, Raindika, Ka Narawangsa, Naza, Ka Salym, Ka Hartif, dan Ka Ferdinand. Plus dadakan dapet 1 tambahan personel Anja. Rencananya ber-8 tetapi 1 berhalangan hadir. Pendakian kali ini tidak banyak dokumentasi yang diabadikan, saya hanya mengantar teman-teman saya nanjak Lawu. Kami ber-7 berangkat pada hari Jumat Malam menggunakan kereta Progo dari Jakarta, menuju Yogyakarta dahulu. Tidak langsung ke Solo karena tidak kebagian tiket sebab long weekend. Sedangkan Anja menggunakan pesawat langsung ketemu di Solo.


Para lelaki petualang "Selamat Pagi Yogyakarta"
Mampir dulu Sarapan di Lempuyangan
Sampai di Yogya kepagian dan mau langsung cus beli tiket kereta Sriwedari ke Solo ternyata belom dibuka, nunggu dulu sampai sekitaran jam 8an, baru tiket bisa dibeli. Mungkin kita baru cuss sekitar jam 9 kurang ke Solo. Menempuh perjalanan selama 1 jam kami sampai juga akhirnya di Solo Jebres. Jalan beberapa meter langsung ketemu bus menuju Karang Anyar setelah sebelumnya masuk terminal Kota Solo. Melalui jalan berkelok-kelok bus terasa lambat rasanya. Sekitar jam 12 lewat kami sampai, setelah repacking dan makan siang terlebih dahulu sekitar jam 1an lewat kami mulai naik.

Base camp tidak banyak berubah, masih sama seperti April pada saat saya naik gunung Lawu untuk yang pertama kalinya. Suasana sedikit mistis, dan kabut. Pendakian kali ini terasa sedikit lebih lama, dibandingkan dengan pendakian pertama jam 6 sore saya sudah berada di Pos 4, sedangkan pada saat itu jam 8 malam saya baru sampai Pos 3 Penggek. Mungkin diakibatkan kaki saya masih cedera.


Base camp Cemoro Kandang penuh kabut

Let's get some lunch before climb

Opening track
Saya mendaki pun selalu diurutan paling belakang, dan pastinya ditemani sweaper setia saya Ka Wongso. Track Cemoro Kandang masih gurih untuk dilahap, datar dan landai. Serta masih berputar-putar, saya hitung sih sekitar 25 keliling menuju Pos 4. Akhirnya jam 8 malam kita berhenti untuk istirahat sejenak, tetapi rasanya tubuh sudah tidak kuat lagi. Ditambah hujan rintik-rintik. Awalnya kami sepakat untuk menembus sampai puncak walau harus ngetrack sampai jam 12 malam. Tapi sayang suasana dan kondisi tidak mendukung. Akhirnya kami sepakat untuk buka tenda saja di pos 3. Sebab kondisi yang lumayan menanjak dan ada jalur Ondo Rante lumayan berbahaya apabila ditempuh dalam keadaan basah, karena merupakan jalur air.

Akhirnya 3 tenda terpasang di pos 3, kami pun sesaat menghangatkan badan dengan api unggun. Karena hujan rintik-rintik kami memasak makan malam di dalam shelter. Malam kian larut, badan kami sudah lelah dan kemudian beranjak tidur. Tapi saya belom bisa tidur karena mendengar suara gamelan sayup-sayup.Saya bangunkan Anja yang kebetulan satu tenda dengan saya, bertanya apakah dia mendengar suara gamelan juga. Dia tak mendengar apapun. Ketakutan yang muncul kemudian...!!!

Saya memang sebelumnya selalu mendengar konon kalo naik gunung di Jawa Tengah atau Jawa Timur apabila mendengar suara gamelan merupakan hal yang biasa. Karena Lawu pusat spiritual Tanah Jawa yang punya kekerabatan dengan Yogyakarta dan pastinya Pantai Selatan.Entah percaya ataupun tidak. Malam beranjak menuju pagi, saya mungkin baru bisa tertidur pulas jam 2 pagi. Jam 3 pagi alarm pun berbunyi, menandakan waktu bangun untuk segera summit ke puncak. Tapi Lawu sangat dingin kala itu, badan saya seolah menolak untuk pergi.

Best Sweaper from Pangrango to Lawu dua jempol

Peace on the track

This is we call FRIENDSHIP

Senja dari Lawu
Tiga puluh menit berlalu, jam menunjukkan pukul 3.30 pagi dan saya masih enggan untuk bangun. Akhirnya hanya ber-5 lah yang akan pergi summit yakni Naza, Ka Ferdinand, Ka Riandika, Ka Salym, dan Ka Hartif. Saya, Anja, dan Ka Wongso akan tetep diam di tenda. Sayangnya ke-5 orang tersebut baru pertama kali ke Lawu. Tapi apa mau dikata, badan saya tak mau pergi. Padahal kala itu cuaca cerah, dan saya tahu bahwa kalau saya naik ke puncak,akan dapat pemandangan bagus.

Setelah semua berangkat summit. Barulah saya tidur pulas, sampai matahari agak naik. Jam 7 pagi saya bangunkan Anja dan Ka Narawangsa untuk buat sarapan pagi, tapi masih pada tidur lelap dna pulas. Akhirnya setelah mereka bangun saya tanya lagi, apakah ada yang dengar suara gamelan semalam, ternyata Ka Wongso mendengarnya, walau sudah dengerin play list lagu dengan volume kencang tetap saja terdengar jelas dan nyata. Baiklah pendakian kali ini sedikit mistis, jam 8 anak-anak sudah turun dari puncak. Bersyukur mereka tidak nyasar walau tanpa ditemani orang yang pernah muncak.

Kala itu kami sedang memasak sarapan, dan mendadak Anjajadi chef..hahaha.. Not bad masakan buatannya. Akhirnya setelah makan pagi siap kami sarapan, setelah itu packing dan turun gunung jam 10 pagi. Sampai basecamp sekitar jam 2 siang kurang, tanpa makan siang terlebih dahulu. Kami langsung meluncur ke Kota Solo untuk mengejar kereta pada saat sore hari. Kami baru sempat makan di angkringan depan stasiun.

Terima Kasih Lawu atas cuaca yang cerah, pertemanan yang solid, dan segala cerita didalamnya. Kini aku rindu berada di ketinggianmu lagi... Semoga kelak masih memiliki waktu tuh menapakimu lagi.. Lawu menyimpan segala cerita, Lawu selalu istimewa untuk saya...

Chef dadakan Christover Harianja

Alhamdulilah  pendakian berjalan lancar dan selamat sampai turun gunung

Saatnya pulang




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Akhir Sebuah Kisah

Kehidupan manusia dewasa itu sungguh unik. Kadang kita harus merelakan hal-hal yang sebetulnya krusial hanya karena hal-hal sepele. Saya merelakan melepaskan persahabatan yang sudah terjalin beberapa tahun lamanya, hanya karena masalah komunikasi. Bahwa benar ketika ego manusia  sudah berbicara. Merasa harga dirinya terkoyak, hati nurani  itu tertutup  seperti  goa es yang sulit  dijangkau. Iya kita tidak akan pernah bisa menyenangkan dan memenangkan hati semua orang. Tidak  akan pernah bisa, karena waktu kita terbatas.  Semakin dewasa dan semakin menua.  Diri ini terkadang sedih,  ada banyak hal yang nampaknya sederhana tetapi itu memiliki makna yang kompleks.Seperti  persahabatan dengan seseorang misalnya. Ada setiap  masa dengan setiap pemeran didalamnya. Hanya saja rasanya seperti hati yang patah.  Ada rongga yang kosong,  dan menganga yang hanya bisa dirasakan saja. Mencoba  menjelaskan, tetapi tertolak. Setia...

Itinerary Pendakian Gunung Arjuno - Welirang Jawa Timur Start Malang (Naik via Tretes, Turun via Wonosari)

ITINERARY PENDAKIAN  Day 1 • 15.00-07.30 : Pasar Senen – Stasiun Malang menggunakan kereta Matarmaja  Day 2 • 07.30 – 08.30 : Sarapan, bersih-bersih, repacking di dekat Stasiun Malang • 08.30 -11.30 : Term. Arjosari - Tretes 4 jam Dari st. Kota baru malang, dilanjutkan naik angkot  L300 / bis jurusan surabaya untuk meuju pandaan. dilanjutkan naik angkot jurusan Pandaan -tretes turun di base camp. • 11.30 -12.00 : Pos 1 / Post Perhutani Tretes 30 Menit Mengurus perijinan di pos ini dengan tarif Rp. 10.000 (saya ambil batas atas) , fasilitas MCK, dan penginapan. • 12.00 -12.30 : Pos 1 - Pet Bocor 30 Menit. Di pos ini terdapat mata air, diperlukan waktu 30 menit dari pos 1 untuk mencapai pos pet bocor ini • 12.30 -16.30 : Pet Bocor - Kokopan 3.5 -4 jam Kondisi jalur adalah jalur lebar yang untuk satu mobil jeep, jalannya berbatu dan kadang diselingi pohon -pohonan dan semak -semak dipinggir jalur. karena kokopan adalah tempat penampungan belerang yang...

Beauty Krakatoa

Lovely place with awesome pict... Waiting the stories :)