Skip to main content

Sapaan Kabut Tipis di Galunggung


Wilujeng sumping di Gunung Galunggung
Berawal dari keisengan  menyapa salah satu teman pendaki yang berdomisili di Tasikmalaya, bahwa saya ingin bermain ke kawah Gunung Galunggung dan Kapung Naga., ternyata beliau berkenan menjadi guide saya untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut. Sebut saja namanya Kang Ocin, saya bertemu beliau pada saat melakukan pendakian ke Gunung Merbabu tahun lalu. Direncanakan trip ini hanya akan berlangsung sehari saja. Naik bus Primajasa jurusan Tasikmalaya-Kampung Rambutan tepat jam 9 malam berangkatlah menuju Tasik, tiket bus ini seharga Rp.48.000,- untuk satu kali perjalanan. Sekedar informasi untuk teman-teman yang mau naik dari Kampung Rambutan usahkan naik di dekat fly over Pasar Rebo yang banyak pedagang buah-buahan, sebab biasanya sudah penuh dan banyak yang berdiri.

Sengaja saya memilih bus malam agar bisa tidur di perjalanan, jarak tempuh kota Tasikmalaya-Jakarta sekitar 6 jam, jam 3 pagi saya sampai di pool Primajasa. Menunggu 30 menit dijemput oleh Kang Ocin, kemudian beliau datang, mampir sebentar di rumahnya. Selepas solat shubuh bergegaslah kami menuju Gunung Galunggung, cuaca kala itu rintik-rintik hujan disertai dengan kabut tipis. Awalnya kami menggunakan sepeda motor tetapi karena hujan turun semakin deras akhirnya kami pulang kembali ke rumah Kang Ocin dan ganti pake mobil.

Kabut menyapa pagi
Gunung Galunggung berada di ketinggian 2.168 mdpl, dengan tipikal gunung stratovulcano.Saat ini masih aktif dan terakhir kali meletus pada tahun 1982 yang menyebabkan peta wilayah radius berubah menjadi 20 km, serta memutus jalan-jalan umum, aliran sungai, dan areal perkampungan. Untuk masuk kesini dikenakan tiket Rp.5.000,- per orang. Dari kawasan tulisan selamat datang di Kawah Gunung Galunggung untuk menuju areal kawah pengunjung dapat berjalan kaki dengan track yang lumayan menanjak,atau bisa memacu kendaraan untuk terus naik ke atas. Menurut saya jaraknya cukup jauh, so we decided to take our car to the top. Nanti akan ditemui percabangan semuanya mengarah ke kawah, tapi saya sarankan ambil jalur kanan, sebab lebih ramai dilalui orang kondisinya. Sebelah kiri agak sepi.
Kabut tipis menyapa kami tatkala menuruni pintu mobil, udara khas pegunungan menyapa. Tanah yang basah menandakan telah turun hujan semalam, bulir-bulir embun pun menyapa diantara rerumputan yang diinjak kaki. Mata saya terbelalak melihat deretan kabut tipis menutupi kota Tasikmalaya. Perpaduan sempurna antara birunya langit, dan hijaunya alam pegunungan. Sayang kala itu matahari malu-malu kucing menampakkan kecantikannya. Jika ingin berburu sun rise datanglah sebelum jam 5 pagi.


620 anak tangga siap mengantar menuju bibir kawah


Melihat papan pengumuman bahwa harus naik 620 buah anak tangga membuat saya glek kaget sesaat. Kemudian Kang Ocin berkata "Ayolah biasa nanjak kan, cuma 30 menit". Oke cuma 30 menit seperti biasa saya kalah ditanjakkan, naik tersengal-sengal dengan nafas memburu. Sesekali menatap kebelakang dan melihat damainya embun dan pemandangan sejauh batas cakrawala ke arah kota Tasikmalaya. Batas jalanan disertai rapatnya pepohonan menjadikan ironi alam yang cantik.
Voila hijaunya kawah Galunggung
Setapak demi setapak akhirya terlewati kemudian sampailah juga di bibir kawah. Meskipun daerah gunung tetapi udara tidak begitu dingin. Hanya bermodalkan sweater tipis saja cukup membuat saya hangat. Di pinggiran bibir kawah banyak juga warung-warung buatan yang sekedarnya menjual susu hangat, kopi, ataupun mie instan untuk mengganjal perut yang sedang kelaparan.Bentuk kawah seperti Love dan airnya berwarna hijau bergradasi. Tapi sangat disayangkan banyak sampah bertebaran di sisi bibir kawah

Still sexy in green
Dari kejauhan nampak ada sekelompok orang yang mendirikan tenda di bawah kawah. Mungkin anak pecinta alam setempat yang sedang melakukan pendidikan latihan dasar. Teringat pembicaraan seorang kawan bahwa kegiatan paling asyik untuk dilakukan adalah membuka kemah, kemudian memancing di dasar kawah. Hmmm...sounds good mungkin akan saya coba suatu saat. Untuk dapat berjalan mengelilingi dasar kawah harus menuruni track berupa tanah berpasir. Amazingnya dibawah sana ada mushola wow takjub saya melihatnya.
gr
Seperti tebing di Amerika "CANTIK...."

Waktu yang diperlukan untuk mengitari dasar kawah Gunung Galunggung sekitar 1,5 jam. Walaupun kadar belerang tidak begitu tinggi usahakan memakai masker ya. Satu hal yang aneh menurut saya, kawah Gunung Galunggung berada setengahnya dari puncak gunungnya. Rata-rata kawah itu dapat dilihat dari bibir puncak tapi ini tidak. Sedikit agak terbelah di tengah.Saya dan Kang Ocin penasaran adakah track menuju puncak Gunung Galunggung padahal yang terlihat hanyalah vegetasi yang ditumbuhi tanaman belukar saja.


Jalan menuju stasiun pemantauan
 
 
 
Berjalan kesebelah timur sedikit, kita dapat menemui semacam stasiun pengukuran debit air serta kandungan belerang di kawah Gunung Galunggung. Disini tempat foto terbaik untuk yang mau mengabadikan kecantikan kawah Galunggung. Entah berapa banyak anak tangga yang harus dituruni tapi cukup menguras tenaga. Sebaiknya bawa air minum. 



The Hidden of Beauty in Galunggung






Lagi dan lagi mata saya terbelalak melihat cantiknya kawah Galunggung. Still say "Thanks God it is so amazing..."
Antara percaya atau tidak dengan foto disamping ini. Ini masih di Indonesia. Mungkin kecantikan kawah Galunggung tidak sehebat Danau Kelimutu, tapi kecantikan kawahnya cukup mewakili syahdunya alam Parahyangan, Tanah Sunda.





Comments

  1. Wah Galunggung, mauuuuuu, ah tapi si Aya kaga buka open trip ke sini ya :(

    Ini gue si Frenky haha...
    http://www.thedreamerblog.com

    ReplyDelete
  2. tenang aja frenk..
    gue open trip kesini ntar Maret *stay tune*

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

The Power Imbalance When a Diplomat Dates You

  I never imagined that I would find myself entangled in a relationship with a man who held the title of diplomat . There is something inherently powerful about that word — a sense of nobility, intelligence, and integrity. For someone like me, who has always prided herself on being independent, educated, and emotionally resilient, the connection initially felt affirming. I thought, perhaps, I had finally found someone who could walk beside me as an equal. But what I didn’t realize at the time was how easily a title can conceal deeper truths — emotional manipulation , power imbalances, and an unspoken hierarchy that slowly erodes one’s sense of reality. Our story began online, like many modern romances. Joel Runnels introduced himself as a diplomat stationed in Central Asia , working in human rights advocacy . From the beginning, our conversations were intense and intellectually stimulating. He spoke about his work with disabled communities, policy reform, and global diplomacy. The...

When He’s a Different Person Behind Closed Doors

  You’ve probably never heard of Joel Runnels PhD — but in certain circles in Minnesota, he’s considered a quiet hero. A legislative affairs director who has dedicated decades of his professional life to disability rights and working for Minnesota Council on Disability , Joel is the kind of man who shows up at public hearings, writes compassionate policy briefs, and speaks with moral authority about equity, justice, and the need to protect society’s most vulnerable. He works closely with the Deaf community , disabled children, and families who rely on state policy to survive. But I knew another Joel. One who existed far away from the polished conference tables and media headlines. One whose mask would fall the moment the doors closed. And I’m finally ready to talk about him. This isn’t an exposé for the sake of revenge. This is my truth — and it’s also a mirror. Because too often, the people we are told to admire and trust the most are the very ones causing silent destruction behin...

When the Mask Falls: What I Learned After Being Lied to, Cheated On, and Gaslighted by a Diplomat

There’s a unique kind of heartbreak that comes not just from personal betrayal, but from betrayal by someone the world sees as respectable — someone who commands admiration, speaks with poise, and lives behind the diplomatic veil of charm and composure. I never thought I would find myself entangled in the emotionally devastating web of deceit, manipulation, and betrayal — especially not with a man trained to handle international relations, negotiations, and cultural sensitivity. But behind the polished exterior, I discovered a pattern of behavior that had been repeated many times before. A man who had fathered five children with two different women, leaving behind broken trust, confusion, and emotional damage. This is not a story told out of bitterness. It is told out of truth, growth, and a deep desire to help others recognize warning signs — and to choose themselves, every single time. The Charisma Trap He was everything that looked good on paper: well-educated, articulate, intellige...