Skip to main content

Menghabiskan Jatah Gagal



Sepuluh tahun yang lalu saya bermimpi bahwa pada titik usia selepas 25 saya menjalani hidup yang ideal sudah memiliki rumah, kendaraan pribadi, berkeluarga, mempunyai karier yang bagus. Tapi mimpi memang selalu indah untuk dijalani. Pada akhirnya kehidupan manusia dewasa selalu mengenyampingkan mimpi dan idealisme dan selalu ada ucapan "Udah jangan ngoyo, jalanin aja yang ada". Seolah kita dilarang bermimpi kembali...

Refleksi mengenai kehidupan saya pribadi saat ini menjelang usia 27 tahun saya sendiri masih berjibaku dengan tugas sebagai mahasiswa akhir untuk merampungkan tesis saya yang sudah telat lulus alias hampir DO jika tahun depan ingin tidak selesai, dan masih hidup dikosan serta belum berkeluarga. Hingga saya malah keluar dari pekerjaan saya. Bukan kehidupan sempurna bukan untuk dijalani ?. Masih tahap merangkak dan meniti.

Pernah merasa ada di titik kok temen-temen saya udah pada nikah, udah punya kerjaan dan karier settled, udah punya keluarga kecil. Dan kok saya gini-gini aja? pernah ngerasa jadi looser dan kok gini amet hidup gue?. Saya sering, kamu? Merasa diunderestimate, merasa use less, dan merasa-merasa rendah lainnya.

Hidup cuma satu kali bukan? bukankah kita harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin dan berusaha sebaik mungkin. Dan buat hidup kamu ga biasa aja, kamu harus berani bermimpi. Mimpi aja dulu, ngayal aja dulu dan jangan pernah takut jatuh. Setidaknya kamu mimpi aja dulu buat nyemangatin kamu, buat kamu tahu tiap hari kamu bangun itu ada hal yang harus kamu kejer. Kamu tahu hidup kamu buat apa, hiduplah dengan penuh mimpi dan ambisi. 

Saya selalu dicap sebagai orang yang tidak realistis dan pemimpi. Tapi saya selalu membuktikan cibiran orang bahwa saya lebih capable dari mereka yang sama sekali takut bermimpi. Saya sering dibilangin, "Udah jangan mimpi ketinggian jalanin aja dulu apa yang ada depan mata". That is true that we have to be focus for today so that we have to get planning and organizing before we do action right ?

Biarkanlah mereka mencibir apa yang menjadi mimpi kita, biarlah kita tetap bahagia dengan segala ambisi kita. Toh mendengarkan masukan orang lain penting, tapi bukan berarti mereka akan menjadi driver bagi kehidupan kita. Bebaskanlah segala ambisi liarmu, lakukanlah hal yang ingin kamu lakukan tanpa kamu takut melangkah, meskipun pada akhirnya kamu akan menjadi single fighter. Melajulah dan berlayarlah. Pergi sejauh mungkin selama kamu bisa, lakukanlah hal gila yang ingin kamu lakukan. Jangan terkungkung dengan keterbatas. Habiskan jatah gagalmu selama kamu masih sendiri dan single. Jangan buat kamu menyesal dengan kehidupan kamu dengan tidak melakukan apapun. Dan teruslah bermimpi tanpa ragu...

Comments

Popular posts from this blog

The Power Imbalance When a Diplomat Dates You

  I never imagined that I would find myself entangled in a relationship with a man who held the title of diplomat . There is something inherently powerful about that word — a sense of nobility, intelligence, and integrity. For someone like me, who has always prided herself on being independent, educated, and emotionally resilient, the connection initially felt affirming. I thought, perhaps, I had finally found someone who could walk beside me as an equal. But what I didn’t realize at the time was how easily a title can conceal deeper truths — emotional manipulation , power imbalances, and an unspoken hierarchy that slowly erodes one’s sense of reality. Our story began online, like many modern romances. Joel Runnels introduced himself as a diplomat stationed in Central Asia , working in human rights advocacy . From the beginning, our conversations were intense and intellectually stimulating. He spoke about his work with disabled communities, policy reform, and global diplomacy. The...

When He’s a Different Person Behind Closed Doors

  You’ve probably never heard of Joel Runnels PhD — but in certain circles in Minnesota, he’s considered a quiet hero. A legislative affairs director who has dedicated decades of his professional life to disability rights and working for Minnesota Council on Disability , Joel is the kind of man who shows up at public hearings, writes compassionate policy briefs, and speaks with moral authority about equity, justice, and the need to protect society’s most vulnerable. He works closely with the Deaf community , disabled children, and families who rely on state policy to survive. But I knew another Joel. One who existed far away from the polished conference tables and media headlines. One whose mask would fall the moment the doors closed. And I’m finally ready to talk about him. This isn’t an exposé for the sake of revenge. This is my truth — and it’s also a mirror. Because too often, the people we are told to admire and trust the most are the very ones causing silent destruction behin...

When the Mask Falls: What I Learned After Being Lied to, Cheated On, and Gaslighted by a Diplomat

There’s a unique kind of heartbreak that comes not just from personal betrayal, but from betrayal by someone the world sees as respectable — someone who commands admiration, speaks with poise, and lives behind the diplomatic veil of charm and composure. I never thought I would find myself entangled in the emotionally devastating web of deceit, manipulation, and betrayal — especially not with a man trained to handle international relations, negotiations, and cultural sensitivity. But behind the polished exterior, I discovered a pattern of behavior that had been repeated many times before. A man who had fathered five children with two different women, leaving behind broken trust, confusion, and emotional damage. This is not a story told out of bitterness. It is told out of truth, growth, and a deep desire to help others recognize warning signs — and to choose themselves, every single time. The Charisma Trap He was everything that looked good on paper: well-educated, articulate, intellige...