Skip to main content

Akhir Sebuah Kisah

Kehidupan manusia dewasa itu sungguh unik. Kadang kita harus merelakan hal-hal yang sebetulnya krusial hanya karena hal-hal sepele. Saya merelakan melepaskan persahabatan yang sudah terjalin beberapa tahun lamanya, hanya karena masalah komunikasi. Bahwa benar ketika ego manusia  sudah berbicara. Merasa harga dirinya terkoyak, hati nurani  itu tertutup  seperti  goa es yang sulit  dijangkau. Iya kita tidak akan pernah bisa menyenangkan dan memenangkan hati semua orang. Tidak  akan pernah bisa, karena waktu kita terbatas. 

Semakin dewasa dan semakin menua.  Diri ini terkadang sedih,  ada banyak hal yang nampaknya sederhana tetapi itu memiliki makna yang kompleks.Seperti  persahabatan dengan seseorang misalnya. Ada setiap  masa dengan setiap pemeran didalamnya. Hanya saja rasanya seperti hati yang patah.  Ada rongga yang kosong,  dan menganga yang hanya bisa dirasakan saja. Mencoba  menjelaskan, tetapi tertolak. Setiap kata seperti bara api,yang kian membakar.

Saya sekali lagi belajar bahwa,  memang persahabatan atau pertemanan itu tidak harus selamanya. Agama memang mengajarkan pula, bahwa  harus memilih teman yang baik  untuk bertumbuh.  Tapi rasa-rasanya yang saya pahami, bahwa  semakin kita mengenal agama. Seharusnya kita semakin mampu bertoleransi  bukan? bukan semakin menjadi-jadi radikal dan fanatik.Sesuatu yang berlebihan itu tidak cukup baik. Jika  persahabatan atau kedekatan disangkut-pautkan dengan agama,rasanya semakin kita paham agama, harus  mmampu merangkul dan mengayomi. Bukan menjauh, dengan alasan berbeda madzhab tapi menghindar dengan cara yang tidak elok.

Untuk  yang pernah bertumbuh bersama, terima kasih atas segala pelajaran yang tersampaikan. Saya berdoa untukmu tiada putus, semoga bahagia selalu dengan jalanmu menuju  surga. Semoga kian dilembutkan jiwa dan raganya.  Maafkan jika sahabatmu yang kamu anggap  pendosa ini, laksana  virus yang harus dihindari seolah membawa petaka.  Hijrah adaah pilihan, seharusnya menjadikan kita kian bijak tanpa  menghukum sesuatu yang tidak disampaikan dan dikenali dengan dalam. Mendengarkan lebih jauh untuk dapat memahami.

Comments

Popular posts from this blog

The Power Imbalance When a Diplomat Dates You

  I never imagined that I would find myself entangled in a relationship with a man who held the title of diplomat . There is something inherently powerful about that word — a sense of nobility, intelligence, and integrity. For someone like me, who has always prided herself on being independent, educated, and emotionally resilient, the connection initially felt affirming. I thought, perhaps, I had finally found someone who could walk beside me as an equal. But what I didn’t realize at the time was how easily a title can conceal deeper truths — emotional manipulation , power imbalances, and an unspoken hierarchy that slowly erodes one’s sense of reality. Our story began online, like many modern romances. Joel Runnels introduced himself as a diplomat stationed in Central Asia , working in human rights advocacy . From the beginning, our conversations were intense and intellectually stimulating. He spoke about his work with disabled communities, policy reform, and global diplomacy. The...

When He’s a Different Person Behind Closed Doors

  You’ve probably never heard of Joel Runnels PhD — but in certain circles in Minnesota, he’s considered a quiet hero. A legislative affairs director who has dedicated decades of his professional life to disability rights and working for Minnesota Council on Disability , Joel is the kind of man who shows up at public hearings, writes compassionate policy briefs, and speaks with moral authority about equity, justice, and the need to protect society’s most vulnerable. He works closely with the Deaf community , disabled children, and families who rely on state policy to survive. But I knew another Joel. One who existed far away from the polished conference tables and media headlines. One whose mask would fall the moment the doors closed. And I’m finally ready to talk about him. This isn’t an exposé for the sake of revenge. This is my truth — and it’s also a mirror. Because too often, the people we are told to admire and trust the most are the very ones causing silent destruction behin...

When Silence Becomes Complicity: The Ethical Reckoning of Joel Runnels, PhD, and the Institutions That Enabled Him

  This article is a personal reflection and should not be interpreted as a legal complaint or formal accusation. It draws on lived experience and publicly available guidelines to spark conversation about ethical accountability in public leadership roles. 1. Introduction: More Than a Personal Story This is not about romance gone wrong. It’s about institutional complicity, the power of titles, and what happens when ethics fall silent in the face of wrongdoing. Joel Benjamin Runnels, PhD — former USAID officer and U.S. diplomat, now Legislative Affairs Director at the Minnesota Council on Disability — has been linked by multiple women across Ghana, Jamaica, Kenya, and Uzbekistan to patterns of emotional manipulation, abandonment, and misuse of diplomatic status. He now serves in a publicly accountable position funded by taxpayer dollars, advocating for marginalized communities. How did these allegations escape scrutiny during vetting? And what does it say about faith in institutions w...