Skip to main content

Respect please...!!!



Kata -kata respect mungkin kata yang tak asing ditelinga kita. Mungkin kita sering mendengar "Kalau anda ingin dihargai,Hargailah orang lain".Yap..Kata - kata itu sangat benar,bagaimana mungkin kita dapat dihargai orang lain tapi kita pun tidak bisa menghargai orang lain.Kalo menurut hukum fisika "AKSI SAMA DENGAN REAKSI",atau kalo dalam kehidupan umum dikenal asas adanya KARMA,"Apa yang kita tanam itu yang kita tuai".



Saya rasa bersikap menghormati orang lain,adalah sebuah keharusan. Karena jika kita "respect" terhadap orang lain itu menunjukkan bahwa kita memang pernah dididik dan diajari dengan baik. Bahwa kita memiliki cukup manner atau sopan santun. Bahwa kita bukan orang udik,yang tak pernah mengenyam bangku sekolah.Jika kita memilki respect yang baik,(mungkin) orang lain pun akan baik pula terhadap kita.Sebab kehidupan adalah unsur timbal balik.




Respect bisa diartikan tahu tempat,tahu apa yang harus diucapkan,tahu bagaimana bersikap,dan tahu dengan siapa kita berbicara dan berhadapan. Itu semua menyangkut kemampuan komunikasi yang baik,memahami orang lain yang merupakan bagian dari Ilmu Psikologi,dan dengan respect terhadap orang lain,kita telah mengembangkan kemampuan interpersonal skill yang pada saat ini lebih dibutuhkan di dunia kerja dibandingkan kepintaran yang tinggi semata.




Respect terhadap orang lain diwujudkan dengan menjadi pendengar yang baik disaat seseorang berbicara dan tidak memotongnya,apabila berbeda pendapat menyampaikan dengan tenang dan tidak ngotot,dan yang penting TIDAK BERTERIAK !!!. Siapapun pasti merasa tidak dihargai jika dibentak dengan kata - kata yang meninggi dan dihadapan khalayak ramai. Hal ini saya alami bersama rekan - rekan saya ketika mengadakan suatu kerja sama dengan suatu pihak. Berteriak dengan suara lantang saya rasa bukan pemecahan masalah yang bijak jika terdapat ketidaksesuaian pendapat dan keinginan. Hal tersebut hanyalah menyulut api emosi dan kebencian,serta rendahnya tingkat penghargaan akan orang lain.Respect pun dapat diwujudkan dengan memilih bahan pembicaraan mana yang penting untuk diceritakan,mana yang tidak perlu.





Tetapi yang jadi masalah apabila kita sudah respect dan merasa baik terhadap orang lain,tetapi orang tersebut tidak bersikap seperti yang kita harapkan,atau malah mungkin bersikap kurang baik,atau dalam artian GA RESPECT..!! .Mungkin hal tersebut kadang membuat dongkol,hal itu saya rasa wajar dan sering terjadi dalam kehidupan sehari - hari. Terkadang kita menggerutu,kesal,ataupun dongkol.Tetapi menurut saya ini adalah suatu kesempatan,dimana kita tidak perlu marah atau kesal karena hal tersebut. Justru hal ini adalah pembuktian kita terhadap orang tersebut :

- Bahwa kita cukup memiliki sopan santun untuk menghargai orang lain

- Kita cukup tahu mana orang yang benar - benar patut dihargai dan pribadi yang hangat (Sehingga memudahkan kita mungkin dalam memilih teman,pergaulan,atau bahkan rekan bisnis).

- Dengan tidak respectnya orang lain,kita tahu bahwa mereka tak cukup layak untuk diajak berbagai sehingga kita tidak perlu repot - repot berinteraksi terlalu lama dan membuang - buang waktu bersosialisasi dengan mereka.

-Kita belajar memahami karakteristik dan mengklasifikasikan individu

-Kita belajar sabar dan memahami perbedaan yang ada



So untuk saya,orang lain ga cukup respect dengan kita ga jadi masalah yang pasti kita sudah menunjukkan value yang ada dalam diri kita,dan setidaknya kita telah memiliki sopan santun dan tahu bagaimana bersikap. Then take it easy...




Kita ga bisa maksa semua orang buat suka sama kita,karena kehidupan itu ada pro dan kontra. Tetapi perbedaanlah yang buat hidup makin berwarna dan menjadi pribadi yang matang menghadapi ketidaksesuaian :)

Comments

Popular posts from this blog

The Power Imbalance When a Diplomat Dates You

  I never imagined that I would find myself entangled in a relationship with a man who held the title of diplomat . There is something inherently powerful about that word — a sense of nobility, intelligence, and integrity. For someone like me, who has always prided herself on being independent, educated, and emotionally resilient, the connection initially felt affirming. I thought, perhaps, I had finally found someone who could walk beside me as an equal. But what I didn’t realize at the time was how easily a title can conceal deeper truths — emotional manipulation , power imbalances, and an unspoken hierarchy that slowly erodes one’s sense of reality. Our story began online, like many modern romances. Joel Runnels introduced himself as a diplomat stationed in Central Asia , working in human rights advocacy . From the beginning, our conversations were intense and intellectually stimulating. He spoke about his work with disabled communities, policy reform, and global diplomacy. The...

When He’s a Different Person Behind Closed Doors

  You’ve probably never heard of Joel Runnels PhD — but in certain circles in Minnesota, he’s considered a quiet hero. A legislative affairs director who has dedicated decades of his professional life to disability rights and working for Minnesota Council on Disability , Joel is the kind of man who shows up at public hearings, writes compassionate policy briefs, and speaks with moral authority about equity, justice, and the need to protect society’s most vulnerable. He works closely with the Deaf community , disabled children, and families who rely on state policy to survive. But I knew another Joel. One who existed far away from the polished conference tables and media headlines. One whose mask would fall the moment the doors closed. And I’m finally ready to talk about him. This isn’t an exposé for the sake of revenge. This is my truth — and it’s also a mirror. Because too often, the people we are told to admire and trust the most are the very ones causing silent destruction behin...

When Silence Becomes Complicity: The Ethical Reckoning of Joel Runnels, PhD, and the Institutions That Enabled Him

  This article is a personal reflection and should not be interpreted as a legal complaint or formal accusation. It draws on lived experience and publicly available guidelines to spark conversation about ethical accountability in public leadership roles. 1. Introduction: More Than a Personal Story This is not about romance gone wrong. It’s about institutional complicity, the power of titles, and what happens when ethics fall silent in the face of wrongdoing. Joel Benjamin Runnels, PhD — former USAID officer and U.S. diplomat, now Legislative Affairs Director at the Minnesota Council on Disability — has been linked by multiple women across Ghana, Jamaica, Kenya, and Uzbekistan to patterns of emotional manipulation, abandonment, and misuse of diplomatic status. He now serves in a publicly accountable position funded by taxpayer dollars, advocating for marginalized communities. How did these allegations escape scrutiny during vetting? And what does it say about faith in institutions w...