Skip to main content

#2 National Park : My First Mountaineering : Pendakian Gunung Gede 2994 mdpl (30 Juni-1 Juli 2012)


Keisengan dan penasaran dapat mengantarkan kita pada pengalaman yang penuh kejutan. Yes it really works. Berawal dari hobi ngetrip beberapa bulan terakhir seolah adrenalin buat travelling itu selalu hadir dan kayaknya kaki tuh kalo ga kemana2 rasanya gak afdol kalo harus menghabiskan weekend di kostan. Iseng-iseng liat trip di www.backpackerindonesia.com ternyata ada yang mau muncak tuh ke gunung Gede. Wah insting gw langsung keluar nih,udah lama banget pengen naik kesono dan gak jad-jadi. Berbekal keisengan itu gw kontak tuh TS-nya yang bernama Ase buat daftar muncak (walau setengah gak yakin karena gw asma :D). And waktu berjalan dengan bongkar-pasang peserta, BBMan, dan smsan untuk kepastian pendakian. And our journey is begin...


Pada saat yang mau muncak itu ada sekitar 25 orang yang berasal dari Jakarta,Bogor, Bandung dan Cilegon.Dan dibagi jadi 3 tim keberangkatan dari Bogor,Jakarta,dan Bandung. Gw sendiri sama temen Yanstri,Achid (adiknya Ase) berangkat dari Bandung. 7 personil lainya dari Bogor (tapi 2 ga ikut), dan Jakarta dengan 15 personil.

Jumat 29 Juni 2012

Janjian ketemuan jam 5 sore di Terminal Leuwi Panjang buat pake bus via Puncak karena meeting pointnya adalah di Istana Cipanas dengan tim yang berangkat dari Bogor. Finally kita ke Cianjur pake bis ekonomi seharga 20 ribu, itu bis ngetem banget jalannya lama, dan kita baru sampai Cianjur jam 10 malem lebih dan ketemu dengan tim dari Bogor. FYI jangan mau yah kalo pada ke Cianjur via Puncak ditawarin harga 20rb, normalnya cuma 15rb dan itu bisa pake bis AC,kita kenapa tipuu...gggrrrr.....

Akhirnya setelah berdelapan sepakat kita sewa angkot dari depan pasar cipanas ke GPO Gunung Putri seharga 10 rb/orang. Sebenernya bisa cuma 5rb atau 6rb per 10 atau 11 orang. Karena sistemnya adalah carter. Tenang aja nagkotnya udah biasa nganterin para pendaki yang mau muncak.Lama perjalanan sekitar 30 menit dan jalanannya agak jelek, Dan biasanya pada nginep dulu di rumah penduduk yang biasa dikasih yang seikhlasnya. Dan kata Ase kita nginep di rumah Bu Bibah. Pas udah sampai nanjak sedikit tuh, yang gw bawa carrier 60 liter rasanya udah mau mampus..hahaha.. Pada saat itu gue sadar kalo keril yang gue bawa kapasitasnya itu 80 liter, ebuseeett..gue dikerjain temen gue..

Sampai di Rumah Bu Bibah sekitar jam 11 malem,dan pada langsung ambil posisi buat tidur, sedangkan tim dari Jakarta sendiri baru dateng sekitar jam 2 pagi keesokan harinya. Karena terdengar suara ribut2 gw kebangun. And finally ngobrol2 dikit dan makan saur Indomie telor..yaksss... Dan baru pada tidur jam 4 pagi... Saat itu temen nanjak gue yang pertama Ka Amani sama Novicha yang sampai detik ini jadi partner in crime :p


Sabtu 30 Juni 2012

Setelah bangun,sarapan, dan packing akhirnya kita mulai petualangan kita....



Repacking dan berdoa sebelum pendakian dimulai
Setelah selesai berdoa, kita langsung bergegas menuju GPO gunung Putri sekitar 15 menit untuk keperluan administrasi. Pendakian saat ini kebanyakan personel cowok, jadi kita sebagai cewek merasa dimanjakan banget..hehehe... Thanks to Asep yang udah mau keril berat gue, dan nuker sama yang lebih ringan

Pemandangan pertama disuguhi perkebunan areal sayuran milik penduduk sekitar


Proses administrasi disini dan dilarang membawa barang2 yang dapat merusak ekologis alam seperti shmapo. So be natural yaa :)


Setelah selesai persyaratan administrasi oke, kita mulai mendaki pemandangan kanan kiri masih sama areal kebun sayur dan sedikit ilalang lalu kita berjalan sekitar 15 menit, ada sebuah warung yang terletak di kanan jalan setelah areal bumi perkemahan dekat GPO Gunung Putri, kemudian tim beristirahat 10 menit dan melanjutkan perjalanan dengan turunan yang disana ada sungai kecil yang merupakan sumber mata air terakhir sebelum nanti ada sumber air di Alun-Alun Suryakencana. Dan dapet jackpot yang pertama tanjakan batu,hehehe... terus sampai gapura kayu yang menandakan pos pertama 1850 mdpl, yang disana tadinya ada bangunan berupa pos tapi kini jadi bangunan yang terlantar. Ngos-ngosan capek itu pasti, dan kerap kali pertanyaan yang terlontar "Masih jauh ga?".


Jack pot pertama tanjakan batu

Setelah itu pendakian terus dilakukan selama 1,5 jam sampai dengan pos 2 yaitu Legok Leunca 2150 mdpl. Kontur hutan di jalur pendakian Gunung Putri merupkan hutan hujan tropis dengan curah hujan yang lumayan tinggi, serta akar-akar dan pepohonan yang besar serta tanjakan terus sampai menuju Alun-Alun Suryakencana. Ditemani suara burung-burung yang bernyanyi sepanjang perjalanan ikut mendamaikan hati dan menikmati suasana, dan ketika saat kita kecapean dan tidur disepanjang jalur pendakian itu rasanya surga. Walau pendakian dilakukan dari pagi hari menjelang siang tetapi tidak terasa begitu panas. Kondisi jalur semakin menyempit dan curam, untuk newbie seperti saya yang pertama kali naik gunung ini ada tantangan tersendiri, dan sebelum pendakian salahnya saya tidak melakukan pemanasan juga. Pos berikutnya adalah Buntut Lutung 2300 mdpl, terdapat sebuah tempat yang lumayan luas untuk leyeh-leyeh dan saya dikagetkan dengan ada sekelompok bapak-bapak yang berjualan nasi uduk dan kopi, yang ternyata mereka adalah warga sekitar yang mengais rejeki sampai ke atas gunung. Oh God untuk cari uang aja sampai harus segitunya. Setelah puas beristirahat kami langsung menuju Pos Lawang Seketeng 2500 mdpl disini tanjakan mulai tiada ampun dan sesekali harus memanjat dan berpegangan pada akar pepohonan disini pentingnya penggunaan sepatu tracking untuk pelindung dan sarung tangan. Biasanya para pendaki yang melewati jalur gunung putri tidak pernah ngecamp atau bongkar tenda di jalur tapi lebih baik bersusah-susah dahulu lalu bersenang-senang kemudian di Alun-Alun Surya Kencana. 
Jalur menuju Alun-Alun Surya Kencana rimbun oleh pepohonan


Suasana hutan hujan tropis yang khas dan penuh pepohonan rimbun


Merasakan kecapaian yang luar biasa, dan tiap saya tanya pada pendaki yang lewat masih jauh gak, jawabannya selalu sedikit lagi setengah jam lagi. Namun ternyata saya dibohongi hampir 2,5 jam berlalu Alun-Alun Surya Kencana tidak terlihat. Hal ini gue sadarin ternyata agar kita gak gampang nyerah dan tetep semangat. Akhirnya pepohonan semakin menyempit dan hullaaa.. sampai juga di Alun-Alun Surya Kencana. Merasakan sangat gembira dan lelah yang ada terbayarkan sudah. Di sana gue bisa liat langit yang beraarak dekat sekali seolah diatas kepala kita dan nampak seperti di film Telletubbies. Sungguh merasakan kecil sekali akan nikmat Tuhan. Alun-Alun Surya Kencana merupakan alun-alun atau pelataran luas dengan banyaknya bunga edelwise dan padang savana. Karena pendakian dilakukan saat musim kemarau, sehingga nampak kering. Sambil menunggu teman-teman yang lain kami akhirnya bernarsis-narsis ria dan mengabadikan momen tersebut. Kami memutuskan camp di Alun-Alun Surya Kencana Barat, yang harus ditempuh 45 menit dari Alun-Alun Surya Kencana Timur.


Welcome the miracle
Subhanallah ada yang solat ditengah keajaiban Tuhan yang luar biasa
Bunga Edelwise di Alun-Alun Surya Kencana


Here is our little bit happiness
Model dadakan Ka Amani dengan back ground Gunung Gede
Setelah semua tim berkumpul maka sekitar jam 3 sore kami mulai mendirikan tenda sebanyak 6 buah. kebetulan saat itu angin sangat kencang, lalu kami memilih masuk kedalam hutan untuk mencari tempat berlindung dan terhindar dari angin, yang bisa dipastikan malam nanti menusuk tulang. Setelah tenda berdiri kami bersiap untuk memasak makan malam, Karena tak bisa masak saya memutuskan dengan Ka Amani untuk photo hunting disekitar sumber air di Alun- Alun Surya Kencana Barat. Photo hunting berlangsung selama 1 jam saat itu pula gue mutusin buat langsung balik ke tenda karena tangan gue hampir beku dan susah nafas dan untuk bernafas pun hampir menangis pula saking sesaknya. Acara makan malam berlangsung dengan obrolan hangat dan ngopi-ngopi. Akhirnya kamipun terlelap, tetapi sekitar pukul 2 malam gue kebangun karena pengen liat bintang. Kita ber-4 yakni Ase,Achid, Amani, dan gue pergilah ke tengah-tengah savana dan lagi-lagi gue dapet kejutan bintang membentang diangkasa luas beserta bulan purnama penuh. Betapa gue merasakan maha dahsyat keajaiban Tuhan. Keindahannya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Akhirnya pukul 3.30 pagi kami balik ke tenda untuk tidur sebentar untuk persiapan summit attack.
Asep Chemonk bertugas mengambil air untuk keperluan memasak
Jam 4.30 tepat kami semua bangun dan mulai nanjak ke Puncak Gede. This is the show, dipimpin Ka Helmi rombongan kami mulai naik, tapi tanpa sang TS Ase karena dia menjaga tenda. Dengan bekal air minum dan roti untuk sumber tenaga kami melipir jalanan setapak menuju puncak Gede selama 45 menit dengan diselingi istirahat sesekali. Sebagai saran untuk pendakian musim kemarau gunakan sarung tangan yang tebal ya karena dingin sekaliii.. And finally we arrived, then sekali lagi ini kita dapat melihat keajaiban Tuhan di atas sana, sang fajar bersinar di ufuk timur dengan garis jingga nan mempesona. Gue ga bisa berkata apa-apa lagi, menangis melihat pemandangan yang sangat ajaib itu, yang selama ini hanya gue lihat di kalender-kalender. Akhirnya tim berfoto bersama dan narsis-narsis ria sampai jam 7 pagi sebelum akhirnya turun lagi. Pendakian pertama ini mengajarkan gue solidaritas, dan loyalitas. Dimana semua awalnya tak kenal, kita semua menjadi saudara.

Our new big family
Selamat pagi dari Puncak Gede
Puncak Gunung Pangrango sebagai back ground

Alun-Alun Surya Kencana dari atas Puncak Gede

Sweaper-Sweaper ganteng yang jagain gue pas turun dari Puncak
Track bebatuan menuju Puncak Gede

Lokasi camp
Komunitas 4G
Setelah proses summit attack selesai kami langsung turun mempersiapkan makan pagi dan berkemas dan bongkar tenda untuk kemudian kembali ke peradaban.Kami turun dengan jalur yang sama yakni jalur pendakian Gunung Putri. Sekitar pukul 9 pagi kami mulai turun, dan sampai di warung Bu Bibah pada pukul 5 sore. Setelah masing-masing peserta membersihkan diri kami kembali ke kota masing-masing. My first hike to Gede Mount memberikan saya banyak pelajaran dan juga untuk terus menjelajah gunung-gunung lainnya. Pengalaman pertama ini melahirkan keluarga baru yakni Komunitas 4G (Genk-Gonk Gunung Gede) karena kami bertemu di Gunung Gede, dan sampai detik ini kami masih melakukan pendakian ke berbagai gunung lainnya. Semoga kekompakan tim ini tetap terjaga, dengan usia komunitas 4G yang sudah berjalan 9 bulan ini semoga bisa lebih besar lagi. Gunung Gede too sweet to forget *bunch of hugs*. Gunung Gede selalu memiliki kenangan manis untuk kami semua Komunitas 4G. Thanks to My Lord of safes us and bless our journey.



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

The Power Imbalance When a Diplomat Dates You

  I never imagined that I would find myself entangled in a relationship with a man who held the title of diplomat . There is something inherently powerful about that word — a sense of nobility, intelligence, and integrity. For someone like me, who has always prided herself on being independent, educated, and emotionally resilient, the connection initially felt affirming. I thought, perhaps, I had finally found someone who could walk beside me as an equal. But what I didn’t realize at the time was how easily a title can conceal deeper truths — emotional manipulation , power imbalances, and an unspoken hierarchy that slowly erodes one’s sense of reality. Our story began online, like many modern romances. Joel Runnels introduced himself as a diplomat stationed in Central Asia , working in human rights advocacy . From the beginning, our conversations were intense and intellectually stimulating. He spoke about his work with disabled communities, policy reform, and global diplomacy. The...

When He’s a Different Person Behind Closed Doors

  You’ve probably never heard of Joel Runnels PhD — but in certain circles in Minnesota, he’s considered a quiet hero. A legislative affairs director who has dedicated decades of his professional life to disability rights and working for Minnesota Council on Disability , Joel is the kind of man who shows up at public hearings, writes compassionate policy briefs, and speaks with moral authority about equity, justice, and the need to protect society’s most vulnerable. He works closely with the Deaf community , disabled children, and families who rely on state policy to survive. But I knew another Joel. One who existed far away from the polished conference tables and media headlines. One whose mask would fall the moment the doors closed. And I’m finally ready to talk about him. This isn’t an exposé for the sake of revenge. This is my truth — and it’s also a mirror. Because too often, the people we are told to admire and trust the most are the very ones causing silent destruction behin...

When the Mask Falls: What I Learned After Being Lied to, Cheated On, and Gaslighted by a Diplomat

There’s a unique kind of heartbreak that comes not just from personal betrayal, but from betrayal by someone the world sees as respectable — someone who commands admiration, speaks with poise, and lives behind the diplomatic veil of charm and composure. I never thought I would find myself entangled in the emotionally devastating web of deceit, manipulation, and betrayal — especially not with a man trained to handle international relations, negotiations, and cultural sensitivity. But behind the polished exterior, I discovered a pattern of behavior that had been repeated many times before. A man who had fathered five children with two different women, leaving behind broken trust, confusion, and emotional damage. This is not a story told out of bitterness. It is told out of truth, growth, and a deep desire to help others recognize warning signs — and to choose themselves, every single time. The Charisma Trap He was everything that looked good on paper: well-educated, articulate, intellige...