Skip to main content

Ketika Pacarmu Seorang Pendaki...


Zaman sekarang nampaknya kegiatan naik gunung sudah mulai digemari kaum Hawa. Ketika saya mendaki banyak cewe-cewe cantik yang tampang mall dan kata temen pendaki saya sih high maintenance . Naik gunung seolah jadi hobi yang bukan lintas gender lagi, bukan hanya mainan kaum Adam belaka. Sering dijumpai pendaki-pendaki nan modis dan ciamik di track. Seolah ini menjadi hiburan tersendiri bagi para kaum lelaki :D.

Gunung kadang jadi tempat pelarian dari segala kegundahan, tempat mencari ketenangan. Berada selama setahun di dunia daki mendaki, membuat saya berkesimpulan bahwa selain hobi, para pendaki mencari tempat pelampiasan dari masalahnya sendiri, yang mungkin secra psikis dan psikologis itu tak stabil. Memang benar ketika kita ingin mengetahui sifat seseorang, bawalah ke alam maka akan terbuka semua sifatnya. Dalam kondisi pendakian, tak jarang banyak yang jatuh cinta alias cinta lokasi entah berlangsung lama ataupun tidak ya. Saya banyak menemukan momen tersebut. Nah berikut saya mau coba ngasih pandangan kalo pacar kita seorang pendaki dan kita sama-sama hobi mendaki : 

Tanggung Jawab  
Untuk poin ini buat saya berada diurutan teratas kenapa? Ya karena ketika kita siap naik gunung, artinya siap menyerahkan nyawa kita pada alam. Setiap pendaki setidaknya pasti punya jiwa tanggung jawab, melindungi keselamatan rekannya. Agar jangan sampai cedera apalagi sakit. Tag line mereka biasanya "Pergi bareng pulang juga harus bareng".
Petualangan tiada batas 
Seorang yang suka petualangan di alam bebas memiliki imajinasi yang sulit ditebak. Kita akan selalu dikejutkan dengan momen - momen yang kadang diluar batas akal sehat. Simple tapi romantis contohnya mengajak kita mendaki puncak yang cantik, melewati savana luas, melihat bintang terang dan purnama penuh. Bukan hal yang mahal, sederhana penuh makna.
Waktu ngedate lebih panjang dan berkesan 
Karena satu hobi jadi lebih paham, dengan nanjak bareng waktu kencan lebih lama, dengan nanjak bareng bisa ngobrol ngalor ngidul, ketawa bareng, mungkin dari bangun sampai tidur kita liat orang yang sama. Senyum yang sama. Selain itu mungkin mengajarkan pengalaman yang gak pernah kita dapet di kehidupan sehari-hari kayak di kota.
Penuh keajaiban
Kadang mereka yang pendaki gak banyak bicara dan kadang agak pendiam. Gak bisa kalo ngomong langsung, yang ada kadang nekat dan langsung aksi. Kadang itu konyol tapi bisa buat kita ketawa sendiri. Mungkin untuk say "I LOVE YOU" aja gagapnya setengah mampus, alasannya malu atau gugup. But they are really so funny ketika bilang kalimat pamungkas tersebut dengan terbata-bata.
Dtinggal dari gunung satu ke gunung lainnya 
Bohong kalo pendaki itu gak puas dengan satu puncak. Mereka pasti berburu puncak satu ke puncak lainnya. Petualangan baru selalu dimulai, dan pastinya sebagai pacar andai kataga bisa muncak dan nanjak bareng harus siap ditinggal-tinggal, tanpa diberi kabar berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu buat suatu ekspedisi.Nerima kabar lewat sms aja cuma kabar sampai puncak atau turun gunung dengan selamat. Udah banyak bersyukur nampaknya. Tapi pacar yang ditinggal nanjak, gigit jari aja liat yayangnya pergi dan dapet view oke :D
Anti cemburu 
Disetiap pendakian pasti bertemu orang baru, kemudian terbentuk cerita baru. Alam bisa menjadikan hal yang gak mungkin menjadi mungkin, Alam itu sulit ditebak. Artinya ketemu orang baru yang lebih menarik dan buat penasaran terbuka lebar. Kata selingkuh pun mungkin gampang terlintas. Modus sana modus sini. Dan artinya kalo punya pacar pendaki harus siap dengan resiko ini. Berbesar hati, jangan cemburuan. Kalo gara-gara cemburuan bisa runyam hubungan bisa babayy nanti.
Kuatin iman jaga kepercayaan
Banyak - banyak berdoa deh kalo punya pacar pendaki. Supaya dikuatin imannya ga kegoda tetangga yang lebih oke dijalur pendakian. Supaya setia, dan bisa jaga kepercayaan orang tersayang yang ditinggal nanjak. Trust is everything, ketika percaya maka hubungan itu sendiri akan aman dan terus berlanjut.


Sooo..masih minat punya pacar seorang pendaki?


Comments

  1. Waa.... tata..
    suka ejie tulisannya

    makasi ya ta?
    #seneng

    tulisan bikin senyum2 nih katataaaa
    poto romantis pisan atuh ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.. ehemp" tahu deh kenapa senyum" sendiri..hahaha

      Delete
  2. Thanks ka jami.
    Kangen saya nanjak bareng kaka lagi :)

    ReplyDelete
  3. wow ka ayaa,, keren bgt deeh postinganya :)

    ReplyDelete
  4. kalo udah sehobi biasanya biasa quality time di gunung. Selain itu bisa have fun tanpa ninggalin temen. kalo ga pasti bete gara2 ditinggal naik gunung terus. haha salam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ka wahyu sepakat biasanya nanjak bareng dan temen-temennya juga satu lingkaran pertemanan. hahaha..iya kalo punya pacar yang ga sehobi pasti jatuhnya cemburuan melulu :)

      Delete
  5. Semuanya benar bahkan saya sampai tertawa sendiri membacanya.
    tulisannya keren.

    salam
    www.indonesianholic.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas akbar terima kasih sudah membaca dan berkunjung :)

      Delete
  6. Like this ae lah pokoke....salam lestari

    ReplyDelete
  7. Suka deh sama tulisannya.. Kayanya mau2 aja punya pacar hobi naik gunung.. Aplagi kalo bsa naik bareng :D

    Oh ya kayanya itu ada salah tlis ya, mngkin mau bilang "bohong kalo pendaki itu puas dengan satu puncak"

    Mampir juga ya mbk www.misstravelerefa.com


    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. dear kaka esterefa thanks udah mampir dan koreksi :)

      Delete
  8. pacaran sama backpacker itu seru mbak, bisa diajak ke gunung bareng, tapi harus rela ditinggal berhari-hari karena gak setiap pendakian dia bisa ngajak ceweknya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

The Power Imbalance When a Diplomat Dates You

  I never imagined that I would find myself entangled in a relationship with a man who held the title of diplomat . There is something inherently powerful about that word — a sense of nobility, intelligence, and integrity. For someone like me, who has always prided herself on being independent, educated, and emotionally resilient, the connection initially felt affirming. I thought, perhaps, I had finally found someone who could walk beside me as an equal. But what I didn’t realize at the time was how easily a title can conceal deeper truths — emotional manipulation , power imbalances, and an unspoken hierarchy that slowly erodes one’s sense of reality. Our story began online, like many modern romances. Joel Runnels introduced himself as a diplomat stationed in Central Asia , working in human rights advocacy . From the beginning, our conversations were intense and intellectually stimulating. He spoke about his work with disabled communities, policy reform, and global diplomacy. The...

When He’s a Different Person Behind Closed Doors

  You’ve probably never heard of Joel Runnels PhD — but in certain circles in Minnesota, he’s considered a quiet hero. A legislative affairs director who has dedicated decades of his professional life to disability rights and working for Minnesota Council on Disability , Joel is the kind of man who shows up at public hearings, writes compassionate policy briefs, and speaks with moral authority about equity, justice, and the need to protect society’s most vulnerable. He works closely with the Deaf community , disabled children, and families who rely on state policy to survive. But I knew another Joel. One who existed far away from the polished conference tables and media headlines. One whose mask would fall the moment the doors closed. And I’m finally ready to talk about him. This isn’t an exposé for the sake of revenge. This is my truth — and it’s also a mirror. Because too often, the people we are told to admire and trust the most are the very ones causing silent destruction behin...

When Silence Becomes Complicity: The Ethical Reckoning of Joel Runnels, PhD, and the Institutions That Enabled Him

  This article is a personal reflection and should not be interpreted as a legal complaint or formal accusation. It draws on lived experience and publicly available guidelines to spark conversation about ethical accountability in public leadership roles. 1. Introduction: More Than a Personal Story This is not about romance gone wrong. It’s about institutional complicity, the power of titles, and what happens when ethics fall silent in the face of wrongdoing. Joel Benjamin Runnels, PhD — former USAID officer and U.S. diplomat, now Legislative Affairs Director at the Minnesota Council on Disability — has been linked by multiple women across Ghana, Jamaica, Kenya, and Uzbekistan to patterns of emotional manipulation, abandonment, and misuse of diplomatic status. He now serves in a publicly accountable position funded by taxpayer dollars, advocating for marginalized communities. How did these allegations escape scrutiny during vetting? And what does it say about faith in institutions w...