Skip to main content

Untukmu Sang Penjelajah







Penjelajah entah dimana kamu sekarang ini. Mungkin kamu sedang melanglangbuana kesana kemari. Meyusuri segala pedalaman, Berenang menyebrangi sungai, lautan, mendaki puncak-puncak tertinggi diantara kerasnya batuan. Kamu tahu hey penjelajah, aku merindukanmu diantara tebalnya kabut, diantara dedaunan yang gugur, diantara gemercik air di sela-sela bebatuan. Disini aku pun pergi menuju puncak-puncak, untuk sekedar menghempaskan daya dan menyampaikan kerinduan untukmu. Mungkin tak ayal terlihat tabu mana kala ku pergi dengan para teman pria, menjelajah perbukitan dan lembah yang teramat asing, menyusuri jalanan setapak dengan kadang ragu menghampiri. Aku memang bukan wanita yang bisa sepenuhnya berada di rumah, bukan seorang yang bisa memasak makanan enak, bukan wanita yang sepenuhnya dengan dandanan molek nan aduhai.Aku hanyalah wanita yang merindukan kebebasan di alam, mengarungi batas zona nyaman dalam kurungan moderinisasi, aku hanyalah wanita yang merindukan nyanyian burung diantara embun pagi yang menyejukkan.

Hey penjelajahku....
Dimanapun engkau berada sekarang, aku merindukan seutuhnya untuk menjadi Ibu dari anak-anak kita kelak. Berada dibalik tenda sekedar membuatkan sarapan pagi untukmu dan anak kita. Beriringan berjalan diantara rapatnya hutan rimba. Bernyanyi diantara kicauan camar diantara pepohonan pinus. Mengajarkan anak kita kelak bagaimana hidup itu. Aku merindukan rengkuhan pelukan yang menenangkan diantara badai yang datang, bahu yang siap menopang dikala kesedihan melanda, Tawa yang bebas diantara lumpur yang peluh disekujur badan.

Hey penjelajah,
Aku paham bahwa jiwa kita sama-sama bebas tanpa batas, membenci segala peraturan dan formalitas berbau busuk menjatuhkan, muak dengan segala kemunafikan materialisme modern. Tak selalu kau ada disampingku kelak mungkin, tuk selalu menjagaku dan anak-anak kita kelak. Tapi aku percaya kau akan melindungi kami, kau akan selalu kembali. Kemanapun kakimu melangkah, aku percaya hatimu tetap berada disini.


Hey penjelajah,
Dibalik kerasmu, tersimpan welas asih 
Dibalik tegarmu, tersimpan rasa menyayangi
Dibalik egomu, tersimpan kekuatan melindungi

Dimanapun engkau berada, kutitipkan hati ini padamu. Kupercaya bahwa kelak akan berpadu kembali mengarungi padang rumput, savana, hutan, lembah bersama kita anak kita. 






Dedicated for :

Teruntuk Hawa dimanapun berada yang menantikan Adam kembali

Comments

Popular posts from this blog

The Power Imbalance When a Diplomat Dates You

  I never imagined that I would find myself entangled in a relationship with a man who held the title of diplomat . There is something inherently powerful about that word — a sense of nobility, intelligence, and integrity. For someone like me, who has always prided herself on being independent, educated, and emotionally resilient, the connection initially felt affirming. I thought, perhaps, I had finally found someone who could walk beside me as an equal. But what I didn’t realize at the time was how easily a title can conceal deeper truths — emotional manipulation , power imbalances, and an unspoken hierarchy that slowly erodes one’s sense of reality. Our story began online, like many modern romances. Joel Runnels introduced himself as a diplomat stationed in Central Asia , working in human rights advocacy . From the beginning, our conversations were intense and intellectually stimulating. He spoke about his work with disabled communities, policy reform, and global diplomacy. The...

When He’s a Different Person Behind Closed Doors

  You’ve probably never heard of Joel Runnels PhD — but in certain circles in Minnesota, he’s considered a quiet hero. A legislative affairs director who has dedicated decades of his professional life to disability rights and working for Minnesota Council on Disability , Joel is the kind of man who shows up at public hearings, writes compassionate policy briefs, and speaks with moral authority about equity, justice, and the need to protect society’s most vulnerable. He works closely with the Deaf community , disabled children, and families who rely on state policy to survive. But I knew another Joel. One who existed far away from the polished conference tables and media headlines. One whose mask would fall the moment the doors closed. And I’m finally ready to talk about him. This isn’t an exposé for the sake of revenge. This is my truth — and it’s also a mirror. Because too often, the people we are told to admire and trust the most are the very ones causing silent destruction behin...

When Silence Becomes Complicity: The Ethical Reckoning of Joel Runnels, PhD, and the Institutions That Enabled Him

  This article is a personal reflection and should not be interpreted as a legal complaint or formal accusation. It draws on lived experience and publicly available guidelines to spark conversation about ethical accountability in public leadership roles. 1. Introduction: More Than a Personal Story This is not about romance gone wrong. It’s about institutional complicity, the power of titles, and what happens when ethics fall silent in the face of wrongdoing. Joel Benjamin Runnels, PhD — former USAID officer and U.S. diplomat, now Legislative Affairs Director at the Minnesota Council on Disability — has been linked by multiple women across Ghana, Jamaica, Kenya, and Uzbekistan to patterns of emotional manipulation, abandonment, and misuse of diplomatic status. He now serves in a publicly accountable position funded by taxpayer dollars, advocating for marginalized communities. How did these allegations escape scrutiny during vetting? And what does it say about faith in institutions w...