Skip to main content

#Part 1 Passion

"follow your passion, and money will follow you"

Kata - kata yang terdengar sangat klise. But it was true guys. Jika ada yang bertanya siapa yang mau lama-lama jadi pegawai dan menjadi budaknya orang lain. Rasanya gak ada. Semua maunya merdeka, maunya bebas dan tiada batas. Alias egois. Mungkin dulu ada sebuah acara televisi yang bertajuk "Bosan Jadi Pegawai". Mungkin ada betulnya. Secara ritme hidup orang normal kebanyakan sekolah, lulus jadi sarjana kemudian cari kerja yang gajinya gede di perusahaan yang tinggi. tapi bentar dulu cuy fresh graduate itu minim pengalaman, tapi kaya akan pengetahuan. Hanya saja gengsi almamater ketara dimana-mana. Sebagai contoh jebolan UI pasti ngerasa lebih pede dengan nama kampus yang masuk TOP 10 UNIVERSITY. Gak munafik sih kuatnya jaringan alumni bisa buat kita gampang diterima di beberapa perusahaan ternama dengan gaji aduhai. Ada yang mengatakan pekerjaan masalah lucky, tapi kalo buat gue sih

LUCKY = USAHA + DOA + KESEMPATAN 

Jadi bohong gede deh kalo lucky hanya ngomongin masalah rejeki. Sekarang patokan gaji fresh graduate S-1 berapa sih. FYI di Jakarta sendiri yang gue tahu kisaran 3 juta - 4 juta aja udah oke banget untuk level staf biasa yang lo dapet libur Sabtu-Minggu, gak tahan ijazah. Kalo gaji mau lebih dari segitu sih ikutan MT aja alias "Management Trainee" yakni suatu cara akselerasi atau percepatan kerja, dimana lo dikasih all material tentang core business perusahaan. Yang katanya dipersiapkan buat jadi manager di level middle. Biasanya ada in class training, on the job tarining, dan ikatan dinas. Buat detail silahkan cari definisinya masing-masing ya di mbah google. Yang pasti lo bakal ditaro didaerah-daerah dan dirotasi untuk jangka waktu tertentu. Disini perusahaan mau tahu tingkat adaptasi lo dan cara lo nyelsein maslah. Tapi ijazah lo ditahan, dengan alasan " Wong udah kita didik, dapurnya perusahaan dikasih semua. Dikasih pelatihan yang bayar pembicara ngomong per hari aja puluhan juta, ya kalo gak ada jaminan lari ke perusahaan kompetitor. Berabelah..."


So kalo dikantor lo ada yang jabatannya sebatas admin biasa, atau staf biasa. Tapi pake gadget oke, bawaan mobil mentereng. Percaya itu harta bonyoknya, yang kadang buat pamer semata. Mereka ga cukup bisa standing by their oen foot. Manja? Mungkin, tapi nampak ga bisa survive. Nih kata dosen gue berdasarkan IPK ada 3 tingkatan jenis kerjaan menurut IPK  :
  1. Biasanya para kaum NASAKOM jadi pengusaha nih. Lah piye, soalnya IPK kagak cukup, jadinya yah kagak bisa apply kemana-mana. Mereka biasanya kaum yang santai. Yang penting wes praktik, kagak usah kebanyakan mikir. Mikir belakangan.Dan biasanya mereka yang punya perusahaan dan mempekerjakan orang-orang yang berotak encer. Walau gak semua CEO itu NASAKOM ya. Ada yang genius, tapi DO, kayak Marck Zukenberg CEO Facebook.
  2. Kaum generalis Rata-rata punya IPK antara 2,75 sampai dengan 3,5 mereka umumnya orang-orang yang berada di comfort zone, alias zona nyaman ikutan kebiasaan orang-orang yang berprofesi menjadi pegawai. Kalo pegawai based on performa dan kinerja. So kalo perusahaan BUMN kata kawan gue kebanyakan feodal. Perusahaan BUMN bonus kerja belasan bahkan puluhan kali gaji bulanan, hanya lo mau naik tingkat susah. Kalo swasta ga peduli lo berapa lama kerja disana ya asal kinerja lo oke naik jabatan cepet.
  3. AKADEMISI alias cocoknya calon dosen. mereka berotak encer cenderung kutu buku dan sedikit yang gue liat IPK tinggi tapi bisa sosialisasi dengan baik. Bukan maksud menjudge sesorang dengan IPK tinggi dan gahul itu masuk kaum minoritas. Mereka hanya segelintir orang beruntung yang punya kehidupan sosial oke. Kebanyakan mereka individualis dan idealis. Kadang ga fleksibel. Cocoknya on the track dan jadi peniliti. Say thanks untuk para akademisi ini karena tanpa mereka. Kita ga bisa nuntut ilmu.
So what will you decide wanna be?. Better to choose before you quit from college. Or kalo kepalang ajdi pegawai kata orang usia 25-30 itu golden age. Fokuskan pada satu bidang yang akan buat lo survive sampai akhir hayat lo dan puluhan tahun kedepan. tapi jangan lupa pendidikan juga penting, buat wawasan lo luas.
 

Comments

Popular posts from this blog

The Power Imbalance When a Diplomat Dates You

  I never imagined that I would find myself entangled in a relationship with a man who held the title of diplomat . There is something inherently powerful about that word — a sense of nobility, intelligence, and integrity. For someone like me, who has always prided herself on being independent, educated, and emotionally resilient, the connection initially felt affirming. I thought, perhaps, I had finally found someone who could walk beside me as an equal. But what I didn’t realize at the time was how easily a title can conceal deeper truths — emotional manipulation , power imbalances, and an unspoken hierarchy that slowly erodes one’s sense of reality. Our story began online, like many modern romances. Joel Runnels introduced himself as a diplomat stationed in Central Asia , working in human rights advocacy . From the beginning, our conversations were intense and intellectually stimulating. He spoke about his work with disabled communities, policy reform, and global diplomacy. The...

When He’s a Different Person Behind Closed Doors

  You’ve probably never heard of Joel Runnels PhD — but in certain circles in Minnesota, he’s considered a quiet hero. A legislative affairs director who has dedicated decades of his professional life to disability rights and working for Minnesota Council on Disability , Joel is the kind of man who shows up at public hearings, writes compassionate policy briefs, and speaks with moral authority about equity, justice, and the need to protect society’s most vulnerable. He works closely with the Deaf community , disabled children, and families who rely on state policy to survive. But I knew another Joel. One who existed far away from the polished conference tables and media headlines. One whose mask would fall the moment the doors closed. And I’m finally ready to talk about him. This isn’t an exposé for the sake of revenge. This is my truth — and it’s also a mirror. Because too often, the people we are told to admire and trust the most are the very ones causing silent destruction behin...

When the Mask Falls: What I Learned After Being Lied to, Cheated On, and Gaslighted by a Diplomat

There’s a unique kind of heartbreak that comes not just from personal betrayal, but from betrayal by someone the world sees as respectable — someone who commands admiration, speaks with poise, and lives behind the diplomatic veil of charm and composure. I never thought I would find myself entangled in the emotionally devastating web of deceit, manipulation, and betrayal — especially not with a man trained to handle international relations, negotiations, and cultural sensitivity. But behind the polished exterior, I discovered a pattern of behavior that had been repeated many times before. A man who had fathered five children with two different women, leaving behind broken trust, confusion, and emotional damage. This is not a story told out of bitterness. It is told out of truth, growth, and a deep desire to help others recognize warning signs — and to choose themselves, every single time. The Charisma Trap He was everything that looked good on paper: well-educated, articulate, intellige...