Skip to main content

Setahun

Oktober selalu menjadi bulan yang istimewa untukku. Kamu tahu apa, disaat Oktober tiba, aku merasakan keceriaan sahabat-sahabatku memeperingati hari istimewa mereka. Begitu juga kita, setahun terlewati sudah. Dengan segala bab yang diceritakan pada langit dan gemintang. Segala peluh debu yang menjadi teman kala perjalanan entah berantah dilakukan. Kala cerita pantun gombal menemani kerja tiada henti hingga jam pulang berdentang. Nyaris tiap detik kita habiskan penuh gelak tawa, cerita hingga pagi menjelang, dan telepon entah kapan tertutup.

Setahun betapa dapat menjungkirbalikan kehidupan anak manusia. Seperti kata para pendahulu kita, kita tidak dapat memilih jalan takdir kita. Tapi kita dapat memilih akan menjadi benar atau salah. Akan melaju atau diam ditempat. Seperti cinta, kita tak bisa memilih kepada siapa akan jatuh cinta. Kadang mau menjatuhkan pilihannya pada tempat yang tak akan pernah diduga. Yang tak akan pernah disangka. 

Kamu tahu disini setahun berlalu, aku sangat rindu. Rindu akan segalanya. Rindu kita yang dulu. Betapa aku sangat rindu hanya menenggak segelas kopi ditepian pantai hingga malam menjemput. Rindu melepasmu dibandara kala akan pergi meninggalkanku berminggu-minggu. Rindu akan sapa suaramu hingga menemani tidurku hingga lelap. Rindu akan alarm yang selalu membangunkanku untuk sekedar mengingatkan solat Shubuh. Rindu dengan ocehanmu diantara jalur pendakian. Rindu kala ku melihat langit dan menoleh kau selalu berada dibelakang untuk menjagaku. Rindu akan menyelami kedalaman hingga ketinggian. Dan aku rindu sebuah nasihat hangat menenangkan kala gelap menyapa hariku.

Ya aku sangat rindu, rindu segalanya. Kamu bilang aku cengeng? Mungkin iya aku cengeng, cengeng untuk dapat menerima segala nyata. Segala hari yang telah lewat. Kamu tahu aku sangat rindu dan sangat mencintai setahun itu. Jika bisa ku meminta pada Tuhan, apa yang ingin aku miliki. Aku hanya ingin engkau ada disini. Ditepian laut, terdiam tanpa suara, bercerita melalui hati. Sesaat kumelepaskan segala beban dibahumi, dan menatap angkasa luas tiada batas, tiada sekat.

Biar kutitipkan segala rindu pada angin diketinggian sana. Menyelami damai dalam tenang ombak. Merasakan hawamu diantara pinus di belantara sana. Melepaskan segala gundah dan lelah pada sebuah doa. Dengan semua itu aku yakin, Tuhan kan menjagamu selalu, kutitipkan selalu namamu dalam setiap sujud dan doaku. Untuk kebahagianmu, untuk kesuksesanmu. Dan izinkan aku selalu mencintaimu hingga akhir nafas ini berhembus.....

Comments

Popular posts from this blog

The Power Imbalance When a Diplomat Dates You

  I never imagined that I would find myself entangled in a relationship with a man who held the title of diplomat . There is something inherently powerful about that word — a sense of nobility, intelligence, and integrity. For someone like me, who has always prided herself on being independent, educated, and emotionally resilient, the connection initially felt affirming. I thought, perhaps, I had finally found someone who could walk beside me as an equal. But what I didn’t realize at the time was how easily a title can conceal deeper truths — emotional manipulation , power imbalances, and an unspoken hierarchy that slowly erodes one’s sense of reality. Our story began online, like many modern romances. Joel Runnels introduced himself as a diplomat stationed in Central Asia , working in human rights advocacy . From the beginning, our conversations were intense and intellectually stimulating. He spoke about his work with disabled communities, policy reform, and global diplomacy. The...

When He’s a Different Person Behind Closed Doors

  You’ve probably never heard of Joel Runnels PhD — but in certain circles in Minnesota, he’s considered a quiet hero. A legislative affairs director who has dedicated decades of his professional life to disability rights and working for Minnesota Council on Disability , Joel is the kind of man who shows up at public hearings, writes compassionate policy briefs, and speaks with moral authority about equity, justice, and the need to protect society’s most vulnerable. He works closely with the Deaf community , disabled children, and families who rely on state policy to survive. But I knew another Joel. One who existed far away from the polished conference tables and media headlines. One whose mask would fall the moment the doors closed. And I’m finally ready to talk about him. This isn’t an exposé for the sake of revenge. This is my truth — and it’s also a mirror. Because too often, the people we are told to admire and trust the most are the very ones causing silent destruction behin...

When Silence Becomes Complicity: The Ethical Reckoning of Joel Runnels, PhD, and the Institutions That Enabled Him

  This article is a personal reflection and should not be interpreted as a legal complaint or formal accusation. It draws on lived experience and publicly available guidelines to spark conversation about ethical accountability in public leadership roles. 1. Introduction: More Than a Personal Story This is not about romance gone wrong. It’s about institutional complicity, the power of titles, and what happens when ethics fall silent in the face of wrongdoing. Joel Benjamin Runnels, PhD — former USAID officer and U.S. diplomat, now Legislative Affairs Director at the Minnesota Council on Disability — has been linked by multiple women across Ghana, Jamaica, Kenya, and Uzbekistan to patterns of emotional manipulation, abandonment, and misuse of diplomatic status. He now serves in a publicly accountable position funded by taxpayer dollars, advocating for marginalized communities. How did these allegations escape scrutiny during vetting? And what does it say about faith in institutions w...