Skip to main content

Posts

Traveling is a way...

Have you ever felt disguise, angry, uncomfortable, and unsafety?. For me to solve that feel just goint to travel, finding new places, learning new things. So do I. In every step I take i learn many things. New experience. Know new people sometimes happy, sometimes not. Sometimes it feels like disaster and nightmare. Different mind, different personality, and different characteristic. Life is about differentiation, is it right?. Sometime we take happiness from our trip, but sometimes we take sadness. Life is about learning, not all people can undertand who we are. Not everybody is like our attitude and world. So that's life, all about like and dislike. I learn that don't trust too much people who you know in short time, be careful of what you say. What we say, it will shoot us one day if we careless, what we tell can make us hurt so deep. So just enjoy your traveling with new atmosphere, new surrounds, and new people. But still be carefull of everything. Because of regret ...

Epic Vacation in Silver Island

Before entering new work in new office in the middle of May 2013, i had one idea to open trip and going to the beach. So collaborate work with my friends to find some people who want join with our trip event. After posted in some travelling website, so i went vacation with 17 people, and the girl is only me and Begeng's sister,and Miss Shary most of them are man. Ahaa.. then as our planning we would be going camping. So we (me, Budi, Wongso) were preparing all of outdoor gears include camp, gas mate, cook, meals, snack, water, etc. The day in April 27th 2013, as our commitment we should come at 5.30 a.m in Muara Angke harbour, because the boat would go in 7.00 a.m. Budi, Wongso, and of course me were going from apartment at 4.45 a.m and arrived before 5.30 a.m though there was two travel mate were coming first. Ahey..really sorry to wait. So after all travel mate came, then soon going to boat. Because weekend time, so the condition in harbour really crowded. People urge to ...

Masih pantaskah kita mengeluh ?

Hidup di kota besar seolah nampak menjadi magnet tersendiri untuk sebagian perantau. Kemudahan akses, impian mendapat pekerjaan dan memperbaiki taraf hidup menjadi sebagian besar mimpi kaum urban datang ke kota besar. Seperti Jakarta ataupun Bandung. Hal ini membuat persaingan semakin sengit. Katakanlah persaingan untuk menjadi yang terbaik, seiring kebutuhan moving yang cepat semua orang membutuhkan akses transportasi. Oleh karena itu beramai-ramai lah semua orang menaiki tranportasi bus way, KRL, atau kopaja. Keadaaan seperti pindang pepes, dipepet terus menerus, dan kondisi panas menjadi pemandangan sehari-hari yang sebagian warga kota besar nikmati dan temui. Karena hampir sebagian besar ibu kota propinsi itu berada di daerah pesisir seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Makasar, dll. Kondisi yang sebenarnya tidak manusiawi tidak nyaman, tapi seolah-olah dibuat zaman. Itulah realitas kehidupan kota besar. Izinkan saya mengambil contoh seorang petugas busway Trans Jakarta, yan...

Makna Perjalanan

Liburan siapa yang tidak menyukainya. Bersenang-senang di alam bebas dan melupakan sesaat kepenatan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan bagaimana kita besemangatnya menuju akhir pekan, berimajinasi hawa liburan, ingin segera packing, menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, dan ingin segera berkata "I am in holiday...!!!" Tetapi menurut analisa saya sendiri, saat ini berlibur bukan lah menjadi hal yang mahal lagi. Semua orang dapat berlibur dengan biaya murah ala backpacker. Tetapi kadang sampai murahnya, ada beberapa pihak yang menjadikannya suatu aktivitas bukan lagi hadiah. Dimana perjalanan yang dilakukan tiap minggu. Seolah menjadi kewajiban yang tidak langsung untuk ditunaikan. Rasanya tak ada lagi rasa gereget dalam menjalani semuanya. Yang ada kadang "Oh ngetrip ya, oke fine..." lantas pergi begitu saja. Saya kembali teringat kata-kata seorang teman backpacker saya Budi Setiawan, dia adalah pendiri dan merupakan ketua BPI Regional Bandu...

Reposting : Menapaki Eksotisnya Lembah dan Savana Gunung Merbabu

Hutan pinus menuju base camp wekas Peta pendakian Foto keluarga Track awal pendakian Sarapan rame-rame Gagahnya merbabu dan tebingnya We are young Disela-sela lembah gunung Tanjakan setan Savana sepanjang perjalanan menuju Puncak Sebelum nyampe puncak ngelewatin 3 jembatan setan dengan kemiringan 70 derajat Seperti savana di rinjani kan? Melipir jurang untuk sampai Puncak Syarif Believe that you can climb this hill Full team berada di puncak Kentheng Songho Gunung Merbabu merupakan gunung berapi dengan ketinggian 3.142 mdpl yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Jalurnya berupa bukit dan savana yang memiliki pemandangan eksotis. Pasti jatuh cinta! Wekas merupakan desa terakhir menuju puncak Gunung Merbabu yang memakan waktu trekking sekitar 6-7 jam. Jalur Wekas merupakan jalur pendek sehingga jarang terdapat lintasan yang datar membentang. Lintasan pos I cukup lebar dengan bebatuan yang mendasarinya. ...

Are Travelhoic and Shopaholic The Same?

Maybe for many people life in the capital city of country very consumtive. Agree or disagree, that is fact. Sale in everywhere, high cost of transportation and social class in peers. So do travelholic and shopaholic. For somebody who titled theirselves as traveler tend to hate mall. I know some shopaholic too, they hate doing an outdoor activity. According them "I am afraid my skin being black !!". Oh God please enjoy the world. This world is sooo beautiful places that you have to see. Holic is doing something over or addict about something and do it too much. That's meaning as my point of view. When we love something, we feel like happiness and joyness. People call this "Euphoria". Agree or not, socialita or shopaholic who is crazy shoping, when they get good prices of things, they feel really happy, their breath are up and up. Something strange in our body makes our mood in good condition and joy.  Happiness for traveler, when they are going to many ...

Heningnya Pusat Spiritual Tanah Jawa : Gunung Lawu 3265 mdpl

Lawu…Oh…Lawu akhirnya berjodoh juga denganmu. Nasib naik ke Lawu beberapa kali tertunda karena faktor kuliah dan kerja. Tapi akhirnya berhasil juga menginjakkan kaki di Puncak Hargo Dumilah. Ajakan naik Gunung Lawu bermula dari bisikan gaib makhluk antah berantah Kakak Nazrul Budi yang merencanakan pendakian hanya dengan 3 orang saja yakni : Kak Nazrul, Kak Daniel (temannya Kak Budi yang baru balik berlayar) dan saya sendiri. Tapi eh tapi nambah 1 bocah lagi yakni Mr. Narsis Alki Narasakay. Kak Nazrul dan Alki sendiri adalah ex-tim pendakian Gunung Merapi pada bulan Maret 2013 silam. Hari yang ditentukan akhirnya tiba, kami berempat berkumpul di Stasiun Senen pada hari Sabtu 13 April 2013 pada pukul 12.30. Kereta kami berangkat pukul 13.00 WIB. Ini adalah pertama kalinya saya melakukan pendakian dengan Kak Nazrul dengan santai tanpa dibayang-bayangi salah lintasan dan jadi penumpang gelap lagi…hahaha… Alki datang paling belakangan dengan ngojeg dari Kampung Melayu menuju St...