Skip to main content

Gunung Papandayan Tak Lelah Ku Melangkah


Berkali-kali nanjak kemarih ga pernah bosen-bosen, berkali-kali nanjak kemari lupa buat catatan perjalanan. Mungkin catatan gue bukan yang paling lengkap tetapi seenggaknya pengen coba menjabarkan keindahan yang dimiliki Gunung Papandayan. Gunung Papandayan katanya sih ketinggiannya 2.665 mdpl cuma adayang bilang sekarang cuma 2.662 mdpl. Entah yang bener yang mana cuma gue ga pernah nemu puncaknya. Soalnya Papandayan itu pegunungan gak tok puncak kayak gunung yang lainnya. Gunung Papandayan berada di Desa Cisurupan Kabupaten Garut cukup 5 jam. Biasanya sih anak-anak nanjak yang hobi nongkrong di Terminal Kampung Rambutan berangkatnya Jumat malam. Oke kita bahas satu per satu obyek yang dimiliki Gunung Papandayan.

KAWAH BELERANG

Memulai pendakian dari parkiran di kawasan Gunung Papandayan, kawasan Kawah Belerang adalah gerbang pertama yang menyambut kita. Hamparan kawah di kanan dan kiri adalah hal yang biasa terlihat. Di sebelah kanan berdiri gagah tebing-tebing karst  yang menjulang tinggi disini kita bisa naik sekitar 30-1 jam untuk mengambil photo shoot saat matahari terbit, apabila kita bisa lebih awal memulai pendakian dari bawah. Belok ke kiri dapat juga langsung menembus Pondok Saladah lewat belakang tepatnya bekas lelehan Kawah Mati dan bekas longsoran. Atau bisa melewati jalur pendakian POLMAN ASTRA Bandung yang berupa sungai dengan batu-batuan besar di kanan dan kirinya.

Track pendakian di sepanjang kawah ini sedikit menanjak, penuh batuan kerikil. Sesekali mata harus teliti karena gue sering tersandung. Track bisa dilahap antara 30 menit jalan santai, tanpa narsis ria loh ya. Tapi gue biasanya menghabiskan 1 jam di jalur ini karena buat spot foto oke banget dan walau capek gak kerasa sih. Cuma harus agak tahan dengan bau belerang yang menyengat yah, sebaiknya pakai masker atau slayer yang udah dikasih air sebelumnya biar bisa nafas. Kawah-kawah disini juga membentuk aliran seperti sungai, tapi untuk pemandangan penuh ada disebelah kiri jalur pendakian. Jalur ini juga tempat lalu lalangnya motor trail pengangkut belerang loh oleh warga lokal.

Selamat pagi dari ketinggian
Matahari cantik nan ciamik
Negeri di atas awan
Jalur POLMAN Astra lewat sungai
Menuju Pondok Saladah lewat Kawah Mati dan longsoran
Track pendakian sekitaran kawah





DANAU WARNA 


Keliatan kalo gak berkabut ada sebuah danau kecil berwarna hijau tepat dibawah letusan kawah baru. Dari jalur pendakian keliatan deket padahal lumayan gempor. Baru kesampaian kesini pas keempat kalinya ngunjungin Gunung Papandayan. Jalur untuk menuju kesini sih pas sama Mang Embot agak-agak ngebingungin soalnya nyasar-nyasar malah kejebak masuk kawah. Jalurnya sebelum naik ke hutan mati belok kiri ya. Gue pikir deket eh ternyata jauh juga bolak balik PP butuh waktu 2 jam. Tapi bebatuannya lebih santai lebih kecil-kecil dibandingkan dengan yang ada di track pendakian kawah belerang, cuma jauhnya itu loh. Yang buat unik dimarih tuh belakangnya masih terdapat tebing bebatuan yang berwarna ijo lumut gitu, jadi kalo foto-foto kayak berasa di Great Wall America.
Jalur menuju danau
The Great Wall of Papandayan Mount
Voila ini danaunya
Setelah ditilik-tilik ternyata danaunya kecil tidak begitu lebar dan panjang. But tetep cantik buat pemanis Gunung Papandayan. Coba lemparin batu ke tengah danau mungkin hanya sekitar 3 meter. Buat foto-foto kece banget deh apalagi ditengah kepulan asap belerang yang lagi membumbung tinggi kelangit. Ciamik!!

HUTAN MATI

Beranjak dari danau bekas lelehan kawah baru, track mulai menanjak. Dibutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke hutan mati. Disini kunci utama untuk mencapai Pondok Saladah. Jika berjalan lurus terus mungkin akan sampai ke arah Tegal Alun dan puncak Gunung Papandayan. Ikuti arah pita yang diselipkan diantara ranting untuk track menuju Pondok Saladah. Disebut hutan mati, karena tadinya berupa hutan lebat yang karena aktivitas vulkanik Gunung Papandayan yang sangat aktif kemudian menjadi mati. Serta meninggalkan sisa-sisa batang kayu yang seperti terbakar.
 
Hutan Mati asik buat begaya-gaya

Danau di Hutan Mati
Sekilas kontur hutan mati mirip seperti kawah putih Ciwidey-Bandung Selatan. tetapi lebih cantik dimari. Biasanya para pendaki puas dan membutuhkan waktu lama disini untuk sekedar foto hunting, terutama pada saat langit dalam kondisi cerah dan tak berawan. Untuk yang melewati hutan mati saat hujan dan kabut hati-hati rawan nyasar ke Tegal Alun atau ke jurang karena jarak pandang tidak lebih dari 1,5 meter biasanya.

PONDOK SALADAH

Ini dia tempat buka tenda alias buka camp para pendaki. Disebut Pondok Saladah karena terdapat banyak pohon Saladah. Untuk mencapai kawasan ini dari hutan mati jalur berupa menurun dan hati-hati salah jalan masuk jurang. Pondok Saladah cukup untuk menampung puluhan tenda dan bahkan kami pernah main bola disini. Selain itu terdapat sumber mata air yang cukup banyak untuk keperluan memasak. Bahkan ada dibuat WC khusus MCK untuk buang air kecil. Singkat kata jangan pernah takut kekurangan air disini sangat melimpah.
Pondok Saladah
Bukit Edelwise yang mengelilingi Pondok Saladah
Kebun Edelwise

Gunung Papandayan terkenal merupakan salah satu gunung yang mempunyai bunga edelwise tercantik di Indonesia. Mudah ditemui disepanjang jalur menuju Pondok Saladah. Untuk kebun bunga edelwise dari tengah-tengah Pondok Saladah cukup berjalan ke sebelah kanan. Disana spot foto terbaik untuk naris ria. Tapi jangan dipetik ya bunga edelwisenya, biarkan berada di habitatnya :)
TEGAL PANJANG


Mungkin belum banyak yang tahu surga tersembunyi dibalik Gunung Papandayan. Iya Tegal Panjang namanya, sebenarnya daerah ini merupakan daerah konservasi. Untuk memasukinya diperlukan izin dari BKSDA Jawa Barat. Cuma banyak yang curi-curi kesini. Jalur menuju kesini dari belakang Pondok Saladah menuju arah Lawang Angin. Apabila nanti ditemui jalanan aspal yang hancur kita lurus terus, sedangkan belok ke kanan menuju ke arah kawah mati dan bekas longsoran. Sekarang tidak diperkenankan buka camp disini, sebab dijaga ranger dan kalau mau tektok.

Track menuju Tegal Panjang landai dan hutan belukar

Selamat pagi dari Tegal Panjang kabutnya buat kangen
 
Langitnya ajib bray...



DAMN I LOVE INDONESIA
My keril is my boyfriend
Untuk menuju Tegal Panjang tracknya landai bahkan cenderung menurun. Banyak semak belukar di kanan kiri jalur dan rapat. Disini dijumpai juga mata air ditengah hutan rimba. Waktu tempuh berjalan santai 3 jam dengan membawa keril. Untuk mencapai Tegal Panjang dapat lewat Pondok Saladah dari Garut atau Ciwidey-Bandung Selatan. Umumnya vegetasi tumbuhan rumput yang tumbuh tinggi seperti tumbuhan padi dan seolah-olah sawah. Tegal Panjang seolah alun-alun yang berada ditengah-tengah pegunungan Papandayan. Sayangnya tidak ada bunga edelwise.

TEGAL ALUN 

Satu lagi surga cantik Gunung Papandayan, Tegal Alun. Kalau Tegal Panjang berada dibawah, Tegal Alun kebalikannya. Untuk sampai disini bisa dari Pondok Saladah naik ke atas dengan jarak tempuh 3 jam, kondisi track memanjat dan berbatu. Jangan pernah camp disini yah karena berbahaya jalurnya macan pada saat malam. Bunga edelwisenya pun sama suburnya seperti di Pondok Saladah. Di Pondok Saladah juga sudah tertera untuk tidak bermalam disini. Perpaduan waktu yang baik untuk kesini adalah pada saat summit attack berangkatlah jam 3 pagi agar sampai diatas tepat waktu matahari terbit.

Padang gembala edelwise

Kecantikan yang abadi



So sekian pembahasan singkat mengenai Gunung Papandayan, selamat berlibur dan tunggu edisi catatan perjalanan berikutnya dalam :
  1. Tegal Panjang Kerinduan Yang Memanggil
  2. Itinerary Pendakian Gunung Papandayan
  3. Resepsi Anak Pendaki
  4.  
     
     
    NB : semua foto-foto dokumentasi pribadi
     
     




































Comments

  1. hutan matinya mirip2 yang di ciwidey ya?
    bukit edelweissnya juga cakep... :)

    salam kenal
    http://pungkysudrajat.blogspot.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. exactly mirip banget mas, tapi lebih cantik Papandayan :)

      Delete
  2. Padang Edelweisnya kerenn, salam kenal mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. berkunjunglah ke mari saat musim panas..dijamin pool buat motret

      Delete
  3. Pemandangannya cantik, bunga edelweisnya cantik, mbak-mbaknya juga cantik

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe..terima kasih mas, pemandangan alam dan ciptaan Tuhan memang selalu luar biasa cantik :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

The Power Imbalance When a Diplomat Dates You

  I never imagined that I would find myself entangled in a relationship with a man who held the title of diplomat . There is something inherently powerful about that word — a sense of nobility, intelligence, and integrity. For someone like me, who has always prided herself on being independent, educated, and emotionally resilient, the connection initially felt affirming. I thought, perhaps, I had finally found someone who could walk beside me as an equal. But what I didn’t realize at the time was how easily a title can conceal deeper truths — emotional manipulation , power imbalances, and an unspoken hierarchy that slowly erodes one’s sense of reality. Our story began online, like many modern romances. Joel Runnels introduced himself as a diplomat stationed in Central Asia , working in human rights advocacy . From the beginning, our conversations were intense and intellectually stimulating. He spoke about his work with disabled communities, policy reform, and global diplomacy. The...

When He’s a Different Person Behind Closed Doors

  You’ve probably never heard of Joel Runnels PhD — but in certain circles in Minnesota, he’s considered a quiet hero. A legislative affairs director who has dedicated decades of his professional life to disability rights and working for Minnesota Council on Disability , Joel is the kind of man who shows up at public hearings, writes compassionate policy briefs, and speaks with moral authority about equity, justice, and the need to protect society’s most vulnerable. He works closely with the Deaf community , disabled children, and families who rely on state policy to survive. But I knew another Joel. One who existed far away from the polished conference tables and media headlines. One whose mask would fall the moment the doors closed. And I’m finally ready to talk about him. This isn’t an exposé for the sake of revenge. This is my truth — and it’s also a mirror. Because too often, the people we are told to admire and trust the most are the very ones causing silent destruction behin...

When the Mask Falls: What I Learned After Being Lied to, Cheated On, and Gaslighted by a Diplomat

There’s a unique kind of heartbreak that comes not just from personal betrayal, but from betrayal by someone the world sees as respectable — someone who commands admiration, speaks with poise, and lives behind the diplomatic veil of charm and composure. I never thought I would find myself entangled in the emotionally devastating web of deceit, manipulation, and betrayal — especially not with a man trained to handle international relations, negotiations, and cultural sensitivity. But behind the polished exterior, I discovered a pattern of behavior that had been repeated many times before. A man who had fathered five children with two different women, leaving behind broken trust, confusion, and emotional damage. This is not a story told out of bitterness. It is told out of truth, growth, and a deep desire to help others recognize warning signs — and to choose themselves, every single time. The Charisma Trap He was everything that looked good on paper: well-educated, articulate, intellige...